Selamat Datang di GEOSFER

Lapisan Pemikiran Anak Geologi.

INDONESIA !!!

Negeri indah pemberian Allah SWT. Negeri di mana aku dilahirkan. Negeri di mana aku hidup. Negeri yang sangat aku cintai. Walau negeri ini sedang menangis saat ini, kami, para pemuda Indonesia, sedikit demi sedikin akan mengembalikan senyuman negeri kami ini. HIDUPLAH INDONESIA RAYA

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

Disinilah tempat aku menyusun puzzel ilmu Geologi yang akan ku gunakan kelak. Tempat aku mempertaruhkan masa depanku. visit : STTNAS.ac.id

Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi "BUMI"

Kami adalah bagian dari HMTG BUMI, Jabiger angkatan 2011, ELEVEN GEOLOGICAS panggilan kami. Jaket Biru seragamku, Hutan Rimba, Lapanganku, ini kompas ini palu, jangan gentar jangan ragu, di atas Bumi, Kita Satu!

INDONESIAN GEOLOGIST

Cita-cita, harapan, masa depan. Walaupun saat ini cuma seorang 'calon' geologist, di masa depan, aku akan jadi geologist yang akan membawa Indonesia kembali kepada kejayaannya.

Kamis, 11 Oktober 2012

Mikroscope Polarisasi


Mikroskop yang dipergunakan untuk pengamatan sayatan tipis dari batuan, pada prinsipnya sama dengan mikroskop yang biasa dipergunakan dalam pengamatan biologi. Keutamaan dari mikroskop ini adalah cahaya (sinar) yang dipergunakan harus sinar terpolarisasi. Karena dengan sinar itu beberapa sifat dari kristal akan nampak jelas sekali. Salah satu faktor yang paling penting adalah warna dari setiap mineral, karena setiap mineral mempunyai warna yang khusus.

Untuk mencapai daya guna yang maksimal dari mikroskop polarisasi maka perlu difahami benar bagian-bagiannya serta fungsinya di dalam penelitian. Setiap bagian adalah sangat peka dan karenanya haruslah dijaga baik-baik. Kalau mikroskop tidak dipergunakan sebaiknya ditutup dengan kerudung plastik. Bagian-bagian optik haruslah selalu dilindungi dari debu, minyak dan kotoran lainnya. Perlu kiranya diingat bahwa buttr debu yang betapapun kecilnya akan dapat dibesarkan berlipat ganda sehingga akan mengganggu jalannya pengamatan.



Keterangan :

A.    Kaki Mikroskop

Merupakan tempat tumpuan dari seluruh bagian mikroskop, bentuknya ada yang bulat dan ada yang seperti tapal kuda (U). Pada mikroskop tipe Bausch & Lomb, kaki mikroskop juga digunakan untuk menempatkan cermin. Pada tipe olympus yang akan kita gunakan, kaki mikroskop sebagai tempat lampu halogen sebagai sumber cahaya pengganti cermin.

B.     Substage Unit

1.      Polarisator atau ” lower nicol ” merupakan suatu bagian yang terdiri dari suatu lembaran polaroid. Berfungsi untuk menyerap cahaya secara terpilih (selective absorbtion), sehingga hanya cahaya yang bergetar pada satu arah bidang getar saja yang bisa diteruskan. Dalam mikroskop lembaran ini diletakkan sedemikian hingga arah getaran sinarnya sejajar dengan salah satu benang silang pada arah N-S atau E-W.
2.      Diafragma Iris terdapat di atas polarisator, alat ini berfungsi untuk mengatur jumlah cahaya yang diteruskan dengan cara mengurangi atau menambah besarnya apertur/bukaan diafragma. Hal ini merupakan faktor penting dalam menentukan intensitas cahaya yang diterima oleh mata pengamat, karena kemampuan akomodasi mata tiap-tiap orang relatif berbeda. Fungsi penting lainnya adalah untuk menetapkan besarnya daerah pada peraga yang ingin diterangi, juga dalam penentuan relief, di mana cahaya harus dikurangi sekecil mungkin untuk pengamatan “garis becke”.
3.       Kondensor terletak pada bagian paling atas dari “substage unit”. Kondensor berupa lensa cembung yang berfungsi untuk memberikan cahaya memusat yang datang dari cermin di bawahnya. Lensa kondensor dapat diputar/diayun keluar dari jalan cahaya apabila tidak digunakan/difungsikan. Fungsi kondensor lebih lanjut akan dibahas pada bab konoskop.
4.      Meja Objek bentuknya berupa piringan yang berlubang di bagian tengahnya sebagai jalan masuknya cahaya. Meja objek ini berfungsi sebagai tempat menjepit preparat/peraga. Meja objek ini dapat berputar pada sumbunya yang vertikal, dan dilengkapi dengan skala sudut dalam derajat dari 0 sampai 360o. Pada bagian tepi meja terdapat tiga buah sekerup pemusat untuk memusatkan perputaran meja pada sumbunya (centering).

C.     Tubus Mikroskop

Bagian ini terletak di atas meja objek dan berfungsi sebagai unit teropong.
Terdiri atas beberapa bagian antara lain :

1.      Lensa Objektif Merupakan bagian paling bawah dari tubus mikroskop, berfungsi untuk menangkap dan memperbesar bayangan sayatan mineral dari meja objek. Biasanya pada mikroskop polarisasi terdapat tiga buah lensa objektif dengan perbesaran yang berbeda, tergantung keinginan pengamat, dan biasanya perbesaran yang digunakan adalah 4x, 10x dan 40x, kadang ada yang 100x.
2.      Lubang Kompensator adalah suatu lubang pipih pada tubus sebagai tempat memasukkan kompensator, suatu bagian yang digunakan untuk menentukan warna interferensi. Kompensator berupa baji kuarsa atau gips yang menipis ke arah depan, sehingga pada saat dimasukkan lubang akan menghasilkan perubahan warna interferensi pada mineral.
3.      Analisator adalah bagian dari mikroskop yang fungsinya hampir sama dengan polarisator, dan terbuat dari bahan yang sama juga, hanya saja arah getarannya bisa dibuat searah getaran polarisator (nikol sejajar) dan tegak lurus arah getaran polarisator (nikol bersilang).
4.      Lensa Amici Bertrand lensa ini difungsikan dalam pengamatan konoskopik saja, untuk memperbesar gambar interferensi yang terbentuk pada bidang fokus balik (back focal plane) pada lensa objektif, dan memfokuskan pada lensa okuler.
5.      Lensa Okuler terdapat pada bagian paling atas dari tubus mikroskop, berfungsi untuk memperbesar bayangan objek dan sebagai tempat kita mengamati medan pandang. Pada lensa ini biasanya terdapat benang silang, sebagai pemandu dalam pengamatan dan pemusatan objek pengamatan.

D.    Lengan mikroskop untuk memegang tubus mikroskop, serta memindahkan mikroskop.

E.     Cermin

Terdiri dari cermin datar dan cermin cekung, untuk menangkap dan meneruskan cahaya ke dalam sistem optik dalam mikroskop.

·         Cermin cekung dapat menerima sinar lebih banyak yang datang dari sumber sinar yang baur, kemudian dipantulkan terkonsentrasi ke satu titik, sehingga menghasilkan sinar yang lebih terang.

·         Cermin datar memantulkan sinar sesuai dengan yang diterima.

Sabtu, 24 Maret 2012

BATUAN BEKU DAN BATUAN GUNUNG API YANG BERSIFAT BASA

Batuan beku dan batuan gunung api adalah batuan yang terbentuk langsung dari magma yg mengalami pembekuan. Sifat dari batuan batuan beku dan batuan gunung api itu sendiri dipengaruhi oleh sifat magma yang membentuknya. Berdasarkan kandungan Silika-nya, batuan beku dibagi menjadi :

1. Batuan Beku Asam
2. Batuan Beku Intermediate
3. Batuan Beku Basa
4. Batuan Beku Ultrabasa

Batuan beku basa berwarna gelap, warna gelap itu menunjukkan bahwa magma yang membentuknya adalah magma yang bersifat basa. Kandungan silikanya rendah, 45 – 52  %, yang dicirikan oleh kehadiran  mineral cerah yaitu plagioklas basa (Ca- plagioklas), dan mineral berwarna gelap  yang dominan piroksen.


DESKRIPSI MEGASKOPIS BATUAN BEKU BASA

BASALT


1. Jenis batuan : Batuan beku extrusif, terbentuk diluar kulit bumi.
2. Warna : Hitam gelap
3. Tekstur        : Afanitik , Fine Grained
4. Stuktur        : Masif, Non-vesikular
5. Komposisi : 40 % Pyroxene, 30 % Plagioklase Feldspar, 15 % Olivine, 10 % Amphibole, dan 5 % Biotite.                                               
6. Genesa        : Terbentuk di luar kulit bumi, dibentuk oleh magma basa yang encer dengan viskositas rendah sehingga mengair dan akhirnya baru mendingin. Sering dijumpai dilapangan denga sruktur bantal apabila aliran lava bersentuhan langsung dengan air.




             
BASALT PORFIRI




1. Jenis batuan : Batuan beku extrusif ataupun intrusi dangkal,
2. Warna : Hitam gelap
3. Tekstur        : Porfiritik , Ada Fenokris dan masa dasar
4. Stuktur        : Masif, Non-vesikular
5. Komposisi   : 40 % Pyroxene, 30 % Plagioklase Feldspar, 15 % Olivine, 10 % Amphibole, dan 5 % Biotite.
6. Genesa : Terbentuk sebagai batuan beku extrusif, bisa juga terbentuk sebagai intrusi dangkal, awalnya magma membeku  lambat, tapi karena ada gangguan yg membuat kecepatan membeku magma bertambah sehingga kristalnya ada yang  besar (fenokris) dan ada yang kecil (masa dasar).



VESIKULAR BASALT




1. Jenis batuan  : Batuan beku extrusif
2. Warna : Hitam agak gelap, kadang kecoklatan.
3. Tekstur         : Afanitik, fine grained
4. Stuktur         : Vesikular
5. Komposisi    : 40 % Pyroxene, 30 % Plagioklase Feldspar, 15 % Olivine, 10 % Amphibole, dan 5 % Biotite.
6. Genesa         : Terbentuk di luar bumi dari magma yang mengalami  pembekuan langsung, bedanya dengan basalt biasa, Vesicular basalt meiliki rongga-rongga bekas keluarnya  gas saat pendinginan. Ini adalah stuktur khas batuan beku luar trutama dibagian atas aliran lava yang membeku. Tapi pernah juga dijumpai ada batuan beku intrusi dangkal. Walaupun mirip batu apung, tapi batu ini lebih berat karena masih memiliki mineral yg mengkristal walaupun ukurannya sangat kecil.


BASALTIC VESIKULAR GLASS



1. Jenis batuan : Batuan Gunung api (Pyroclastic)
2. Warna : Hitam gelap
3. Tekstur        : Glassy , Non-crystaline
4. Stuktur        : Vesikular
5. Komposisi   : Vulcanic Glass
6. Genesa         : Terbentuk dari Material Vulkanik berupa gelas yang saling mengikat di udara saat letusan dan magmanya mengandung banyak gas. Gelas Vulkanik pun terbentuk  dari pembekuan magma, tapi pembekuannya sangat cepat sehingga mineralnya tidak sempat mengkristal dan akhirnya terbentuk gelas dan saat pendinginannya, ada gas yang keluar sehingga menimbulkan struktur vesikular.  Batu ini sangat ringan, sering disebut batu apung gelap.



BASALTIC  GLASS



1. Jenis batuan   : Batuan Gunung api (Pyroclastic)
2. Warna : Hitam Metalic
3. Tekstur         : Glassy , Non-crystaline
4. Stuktur         : Masif, Non-vesicular,
5. Komposisi    : Vulcanic Glass
6. Genesa         : Terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat saat letusan gunung api. Tidak ada tanda-tanda keluarnya gas,  jadi strukturnya masif. Dan jika pecah, pecahannya konkohidal.


GABBRO


1. Jenis batuan   : Batuan beku Intrusif
2. Warna : Hitam gelap, kadang agak kehijauan
3. Tekstur         : Fanerik, Croase grained
4. Stuktur         : Masif, Non-vesikular
5. Komposisi : 40 % Pyroxene, 30 % Plagioklase Feldspar, 15 % Olivine, 10 % Amphibole, dan 5 % Biotite.
6. Genesa         : Terbentuk didalam kerak bumi sehingga mineralnya dapat mengkristal dengan baik, pembekuannyapun sangat lambat, hasilnya mineral penyusun batuan ini berukuran kasar, dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena magma yang membentuknya bersifat basa, jadi warnanya gelap.


TROCTOLITE



1. Jenis batuan : Batuan beku Intrusif
2. Warna        : Kuning kehijauan
3. Tekstur        : Fanerik, Croase grained
4. Stuktur       : Masif, Non-vesikular
5. Komposisi   : 50% Olivine dan 50% plagioklase
6. Genesa : Terbentuk didalam kerak bumi sehingga mineralnya dapat mengkristal dengan baik, pembekuannyapun sangat lambat, hasilnya mineral penyusun batuan ini berukuran kasar, dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena magma yang membentuknya bersifat basa, jadi warnanya gelap.




OLIVINE GABBRO




1. Jenis batuan : Batuan beku Intrusif
2. Warna       : Hitam hijau pucat
3. Tekstur        : Fanerik, Croase grained
4. Stuktur : Masif, Non-vesikular
5. Komposisi    : 40 % Pyroxene, 30 % Plagioklase Feldspar, 30 % Olivine
6. Genesa : Terbentuk didalam kerak bumi sehingga mineralnya dapat mengkristal dengan baik, pembekuannyapun sangat lambat, hasilnya mineral penyusun batuan ini berukuran kasar, dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena magma yang membentuknya bersifat basa, jadi warnanya gelap.



LATITE



1. Jenis batuan : Batuan beku Intrusif
2. Warna : Hitam keabuan
 3. Tekstur       : Fanerik, Croase grained
4. Stuktur : Masif, Non-vesikular
5. Komposisi    : 40 % Pyroxene, 30 % Amphibole, 30 % Olivine
6. Genesa : Terbentuk didalam kerak bumi sehingga mineralnya dapat mengkristal dengan baik, pembekuannyapun sangat  lambat, hasilnya mineral penyusun batuan ini berukurankasar, dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena magma yang membentuknya bersifat basa, jadi warnanya gelap.


HORNBLENDITE


1. Jenis batuan : Batuan beku Intrusif
2. Warna        : Hitam keabuan
 3. Tekstur       : Fanerik, Croase grained
4. Stuktur        : Masif, Non-vesikular
5. Komposisi    : 75 % Hornblande,  10% Pyroxene, 5% Biotite, 5% Olivine, 5% Plagioklase
6. Genesa : Terbentuk didalam kerak bumi sehingga mineralnya dapat mengkristal dengan baik, pembekuannyapun sangat lambat, hasilnya mineral penyusun batuan ini berukurankasar, dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena magma yang membentuknya bersifat basa, jadi warnanya gelap.



NORITE




1. Jenis batuan : Batuan beku Intrusif
2. Warna : Hitam keabuan
 3. Tekstur       : Fanerik, Croase grained
4. Stuktur : Masif, Non-vesikular
5. Komposisi   : 50 % Plagioklase, 50 % Ortopyroxene
6. Genesa       : Terbentuk didalam kerak bumi sehingga mineralnya dapat mengkristal dengan baik, pembekuannyapun sangat  lambat, hasilnya mineral penyusun batuan ini berukurankasar, dapat dilihat dengan mata telanjang. Karena magma yang membentuknya bersifat basa, jadi warnanya gelap.



Sabtu, 17 Maret 2012

Download Materi Geomorfologi (.ppt) STTNas

 Persembahan buat Jabiger,

buat yang pengen download materi Geomorfologi :)

nih tinggal download aja gan :D

siapin internet yang ngebut,

Terimakasih banyak buat Pak Dr. Ir. Evaristus Budiadi, MS

Download Here

Download Materi Kristalografi-Mineralogi (.ppt) STTNas

Persembahan buat Jabiger,

buat yang pengen download materi Kristalografi-Mineralogi :)

nih tinggal download aja gan :D

siapin internet yang ngebut,

Terimakasih banyak buat Pak Dr. Hill. Gendoet Hartono S.T., M.T.

Download Here

Download Materi Geokimia (.doc) STTNas

Persembahan buat Jabiger,

buat yang pengen download materi Geokimia :)

nih tinggal download aja gan :D

siapin internet yang ngebut,

Terimakasih banyak buat Pak Ir. Yulius Marzani, M.Si


Download Here

Download Materi Petrologi (.ppt) STTNas

Persembahan buat Jabiger,

buat yang pengen download materi petrologi :)

nih tinggal download aja gan :D

siapin internet yang ngebut,

Terimakasih banyak buat Pak Dr. Hill. Gendoet Hartono S.T., M.T.

Download Here

Download Materi Geologi Fisik (.ppt) STTNas

Persembahan buat Jabiger,

buat yang pengen download materi geologi fisik :)

nih tinggal download aja gan :D

siapin internet yang ngebut,

Terima kasih banyak kepada Ibu Amara Nugraheni, M.T.

Download Here

Sabtu, 10 Desember 2011

Identifikasi Mineral

Dalam geologi, mineral adalah senyawa yang terbentuk oleh proses alam melalui proses geologis, biasanya bersifat padat, mempunyai komposisi kimiawi tertentu serta mempunyai sifat fisik tertentu pula. Pada umumnya mineral bersifat padat, akan tetapi dapat juga berwujud cair atau gas. Karena memiliki sifat fisik dan kimia tertentu sehingga dengan mengetahui sifat-sifat tersebut dapat menentukan nama mineral.


Istilah mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimia, tetapi juga struktur mineral. Mineral termasuk dalam komposisi unsur mur
ni dan garam sederhana sampai silikat yang sangat kompleks dengan ribuan bentuk yang diketahui. Mineral tersusun dari unsur-unsur kimia, dimana unsur-unsur tersebut banyak dijumpai sebagai penyusun kerak bumi, lebih dari 70% adalah silikon oksigen. Mineral silikat adalah mineral utama pembentuk batuan, mineral lainnya yang penting adalah sulfida, karbonat, sulfat, dan fosfat. Komposisi kimia terbentuk akibat bersatunya satu atau lebih anion dan kation dalam perbandingan tertentu. Pada satu komposisi, jumlah muatan positif dan negatif harus nol atau netral. Komposisi beberapa mineral dapat bervariasi, tetapi ada batas tertentu. Hal ini dapat terjadi akibat adanya pertukaran subtitusi ion dalam struktur mineral, sehingga mengakibatkan perubahan susunan kimia dalam batas tertentu.


Agar dapat diklasifikasikan sebagai mineral sejati, senyawa tersebut haruslah berupa padatan dan memiliki struktur kristal. Namun bahan padat yang tidak memiliki struktur dalam (amorf) tidak dapat dikatakan sebagai mineral, meskipun beberapa kriterianya terpenuhi. Material alamiah yang tidak memenuhi sebagian atau seluruh kriteria mineral dikelompokkan dalam kelompok mineraloid. Menurut The International Mineralogical Association (1955), mineral suatu unsur atau senyawa yang dalam keadaan normalnya memiliki unsur kristal dan terbentuk dari hasil proses geologi. Ada juga yang menyebutkan definisi mineral adalah suatu zat yang terdapat dalam alam dengan komposisi kimia yang khas dan biasanya memiliki struktur kristal yang jelas, yang terkadang dapat berubah dalam bentuk geometris tertentu. Istilah mineral sendiri dapat mempunyai bermacam-macam makna, sukar untuk mendefinisikan mineral, oleh karena itu kebanyakan mengatakan bahwa mineral adalah satu frase yang terdapat dalam alam.


Untuk membedakan mineral yang satu dengan yang lainnya, dapat menggunakan berbagai sifat-sifatnya yang berbeda, seperti bentuknya, cara terjadinya, belahan, dan pecahannya, warna, kilap dan sifat tembus cahaya, kekerasan, berat jenis, kemagnetan, susunan kimia, dan beberapa sifat lainnya. Berikut ini adalah penjelasan sifat-sifat fisik suatu mineral, antara lain :
1. Warna (colour)
warna pada mineral adalah warna yang kita tangkap dengan mata apabila mineral terkena cahaya atau spektrum cahaya yang dipantulkan oleh mineral. Warna mineral dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
a. Warna Idiokhromatik
apabila warna mineral selalu tetap, pada umumnya dijumpai pada mineral-mineral yang tidak dapat tembus cahaya atau berkilap logam.
b. Warna Allokhromatik
apabila warna mineral tidak tetap, tergantung pada material pengotornya, umumnya dijumpai pada mineral yang tidak tembus cahaya atau berkilap non-logam.

2. Kilap (luster)

adalah kesan mineral yang ditunjukkan oleh pantulan cahaya yang dikenakan padanya, atau intensitas cahaya yang dipantulkan oleh permukaan kristal. Kilap mineral dapat dibedakan menjadi:
a. Kilap logam, apabila terkena cahaya, mineral akan memberikan kesan seperti logam, contohnya seperti galena dan pirit.
b. Kilap non-logam, apabila terkena cahaya, mineral tidak memberikan kesan seperti logam. Kilap non-logam ini dibedakan menjadi:
  • Kilap kaca
  • kilap intan
  • kilap sutera
  • kilap damar
  • kilap mutiara
  • kilap lemak
  • kilap tanah
3. Kekerasan
adalah ketahan
an mineral terhadap suatu goresan. Secara relatif kekerasan mineral dapat ditentukan dengan menggunakan Skala Mohs yang dimulai dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk mineral terkeras:
1 Talk 6 Feldspar
2 Gipsum 7 Kuarsa
3 Kalsit 8 Topaz
4 Fluorit 9 Korundum
5 Apatit 10 Intan
Dalam menggunakan skala Mohs harus dimulai dari mineral yang terkeras dan digoreskan pada bagian yang rata pada mineral yang akan diselidiki. Sebagai pembanding juga dapat digunakan benda lain, seperti:
  • Kuku jari 2,5
  • Jarum 3,0
  • Koin tembaga 3,5
  • Paku besi 4,5
  • Pisau baja 5,5
  • Kaca 5,5-6,0
  • Kikir Baja 6,0-7,0
  • Amplas (kasar) 8,0-9,0
4. Cerat (streak)
adalah warna mineral dalam bentuk serbuk atau goresan. Cerat dapat sama atau berbeda dengan warna
mineral. Cerat diperoleh dengan menggoreskan mineral pada bagian belakang dari porselen.

5. Belahan (cleavage)
adalah kenampakkan mineral untuk membelah melalui bidang belahan yang rata, halus, dan
licin serta pada umumnya selalu berpasangan. Belahan dapat dibedakan menjadi:
a. Belahan sempurna : mudah dibelah (ex. muskovit, biotit)
b. Belahan baik : tidak mudah dibelah (ex. kalsit, orthoklas)
c. Belahan tak jelas: kenampakan striasi pada bidang belahannya (ex. plagioklas)
d. Belahan tak tentu: tidak ada bidang belahan (ex. kalsedon)
Apabila ditinjau dari arah belahannya, maka belahan dibedakan menjadi:
a. Belahan 1 arah (ex. muskovit)
b. Belahan 2 arah (ex. feldspar)
c. Belahan 3 arah (ex. halit, kalsit)

6. Pecahan (fracture)
adalah kenampakkan mineral untuk pecah melalui bidang yang tidak rata, tidak halus, tidak
licin, dan tidak teratur. Pecahan pada mineral dibedakan menjadi:
a. Konkoidal : memperlihatkan gelombang yang melengkung dipermukaan, seperti kenampakkan
bagian luar kulit kerang atau botol yang pecah.(ex. mineral kuarsa)
b. Fibrous : menunjukan gejala seperti serat atau daging. (ex. serpentin, asbes, augit)
c. Uneven : menunjukan kenampakan permukaan yang tidak teratur dan kasar. (ex.garnet)
d. Even : menunjukan kenampakan permukaan yang cukup halus (ex. mineral lempung)
e. Hackly : permukaannya tidak teratur, kasar, dan ujungnya runcing (ex. copper, gold)

7. Bentuk
bentuk mineral ada 2 macam, yaitu:
a. Kristalin : apabila mineral mempunyai bidang kristal yang ideal dan biasanya terdapat pada
mineral yang mempunyai bidang belahan.
- Bangun kubus (ex. galena, pirit)
- Bangun prismatik (ex. amfibol, piroksen)
-Bangun Dodecahedron (ex. garnet)
b. Amorf : apabila mineral tidak mempunyai batas-batas kristal yang jelas. (ex. dolomit)

8. Berat Jenis (specific grafity)
adalah perbandingan antara berat mineral di udara terhadap volumenya di dalam air, yaitu
berat volume air sama dengan volume mineral tersebut.
9. Sifat Dalam (tenacity)
adalah reaksi mineral terhadap gaya yang mengenainya, seperti penekanan, pemotongan, pembengkokan,
pematahan, pemukulan, ataupun penghancuran. Tenacity dibagi menjadi:
a. Rapuh (brittle) : bila digores menjadi tepung tapi bubuknya tidak meloncat kesegala arah
dan mudah hancur (ex. kuarsa, kalsit)
b. Dapat diiris (sectile) : dapat diiris dengan pisau dan memberikan kenampakan yang halus
dan rata pada bekas irisannya. (ex. gypsum)
c. Dapat dipintal (ductile) : mineral dapat dipintal seperti kapas. (ex. asbes)
d. Dapat ditempa (milleable) : bila mineral dipukul dapat menjadi lebih tipis dan melebar.(ex. emas, tembaga)
e. Lentur (elastic) : bila dibengkokan dapat kembali seperti semula kalau dilepaskan lagi. (ex. mika)
f. Fleksible : bila dibengkokan tidak dapat kembali seperti semula kalau dilepaskan lagi. (ex. copper)

10. Kemagnetan
adalah sifat mineral terhadap gaya tarik magnet. Kemagnetan dapat dibedakan menjadi:
a. Feromagnetik : tertarik kuat oleh magnet (ex. magnetit, pirotit)
b . Paramagnetik : tertarik agak kuat oleh magnet (ex. pirit)
c. Diamagnetik : tidak tertarik oleh magnet (ex. kuarsa, gypsum)
11. Sifat-sifat Lain
adalah sifat-sifat yang khas yang dimiliki oleh mineral diluar sifat-sifat fisik yang telah diuraikan
diatas,
contohnya:
a. belerang mempunyai bau yang menyengat seperti korek api
b. Halit memiliki rasa yang asin seperti garam
c. Grafit apabila digoreskan pada kertas, maka akan membekas

GYPSUM


SIFAT-SIFAT FISIK MINERAL

Warna              :  Bening sampai Putih.
Kilap               :  Non Logam (Kilap Kaca, Kilap Sutra, Kilap Tanah)
Kekerasan       :  2 Skala Mohs
Cerat               :  Putih
Belahan           : 1 arah
Pecahan           :  Runcing, Konkoidal
Berat Jenis       :  2,308 g/cm3
Sifat Dalam     :  Flexible
Sistem Kristal  :  Monoklin
Formula           :  CaSO4 . 2H2O

DOLOMITE


SIFAT-SIFAT FISIK MINERAL

Warna              :  Bening, Putih, Putih Kemerahan, Abu-abu
Kilap               :  Non Logam (Kilap Kaca, Kilap Mutiara)
Kekerasan       :  3,5 – 4 Skala Mohs
Cerat               :  White
Belahan           :
Pecahan           :  Sub-Konkoidal
Berat Jenis       :  2,86 g/cm3
Sifat Dalam     :  Brittlt
Sistem Kristal  :  Rhombohedral
Formula           :  CaMg(CO3)2